KOTA MALANG — Lingkungan yang bersih bukan hanya menghadirkan kenyamanan, tetapi juga menjaga kehidupan. Dari kesadaran sederhana untuk tidak membuang sampah sembarangan, mengolah air limbah, hingga merawat pohon yang tumbuh di halaman pesantren, lahir sebuah ikhtiar besar: menjadikan kepedulian terhadap bumi sebagai bagian dari nilai keimanan dan pengabdian kepada sesama.
Semangat itulah yang mengantarkan Pondok Pesantren Al-Umm, Jalan Joyo Agung Nomor 1 Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang, menjadi wakil Kota Malang dalam Penilaian Eco Pesantren Tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2026. Pada Kamis (20/8/2026), keluarga besar pesantren menerima kunjungan Tim Verifikasi Lapangan dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur di Aula Meeting Room YBM.
Kunjungan tersebut menjadi lebih dari sekadar proses penilaian. Di balik verifikasi berbagai program lingkungan, tersimpan komitmen bersama untuk membangun ruang pendidikan dan kehidupan yang sehat, nyaman, serta berkelanjutan. Pesantren pun menunjukkan bahwa layanan keagamaan yang berkualitas tidak dapat dipisahkan dari kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Tim Verifikator Lapangan DLH Provinsi Jawa Timur dipimpin Immanuel Kharisma, S.T. atau yang akrab disapa Mas Imin. Kegiatan tersebut juga didampingi Kepala Tim Kerja Pondok Pesantren Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Kyai Dr. H. Nur Yasin Shirotol Mustaqim, M.A.
Mudir Tanfidzi Putra Pondok Pesantren Al-Umm, KH. M. Syu’aib Alfaiz, Lc., M.Si., menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Al-Umm untuk mewakili Kota Malang.
“Suatu kehormatan yang amat luar biasa bagi keluarga besar Pondok Pesantren Al-Umm dapat terpilih mewakili Kota Malang dalam ajang Eco Pesantren Jawa Timur. Namun bagi kami, menjaga lingkungan bukanlah semata-mata untuk sebuah penilaian. Ini adalah ikhtiar mendidik generasi agar memahami bahwa merawat ciptaan Allah juga merupakan bentuk tanggung jawab spiritual,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan lingkungan harus tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari. Ketika santri belajar menjaga kebersihan, mengelola sampah, menghemat air, dan merawat tanaman, sesungguhnya mereka sedang belajar tentang disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian kepada orang lain.
Immanuel Kharisma memberikan apresiasi atas kesiapan serta komitmen yang ditunjukkan Pondok Pesantren Al-Umm. Ia menegaskan bahwa Eco Pesantren tidak semestinya dipandang sebagai perlombaan untuk mencari pemenang, melainkan sebagai gerakan bersama untuk menumbuhkan budaya ramah lingkungan yang hidup secara berkelanjutan.
“Kami ingin melihat sejauh mana kepedulian lingkungan benar-benar menjadi budaya. Yang paling penting bukan apa yang ditampilkan pada saat penilaian, tetapi bagaimana seluruh warga pesantren menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai kebiasaan yang terus berlangsung,” ungkapnya.
Kesan positif semakin kuat ketika tim melakukan verifikasi lapangan. Berbagai fasilitas dan inovasi lingkungan yang telah berjalan aktif memperlihatkan bahwa ekosistem hijau di Al-Umm bukan program yang hadir secara mendadak. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Bank Sampah Al-Umm (BSA) menjadi bukti adanya sistem pengelolaan lingkungan yang dibangun secara nyata dan berkelanjutan.
Santri, pengajar, pengurus, hingga seluruh masyarakat pondok turut mengambil bagian. Kolaborasi inilah yang menjadikan lingkungan pesantren tidak hanya bersih dan asri, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama tentang pentingnya menjaga kesehatan dan kelestarian alam.
Dalam peninjauan, tim verifikator juga menikmati hasil budi daya lingkungan pesantren, mulai dari Classic enzyme hingga memetik buah segar langsung dari pohonnya. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa lingkungan yang dirawat dengan baik mampu memberikan manfaat langsung bagi kehidupan.
Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Kota Malang, Sukirman, S.Ag., M.Pd., yang turut mendampingi kegiatan, menyampaikan kebanggaannya terhadap kesiapan seluruh unsur pesantren. Dengan senyum bangga, ia melontarkan ungkapan yang menggambarkan suasana Al-Umm, “Al-Umm Pesantrene Resik, Rezekine Apik!”
Ungkapan sederhana itu mengandung pesan mendalam. Lingkungan yang bersih dan tertata bukan hanya menciptakan kenyamanan, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya keberkahan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Bagi Kementerian Agama Kota Malang, praktik baik seperti yang dilakukan Pesantren Al-Umm sejalan dengan semangat reformasi birokrasi yang berorientasi pada dampak. Reformasi tidak berhenti pada pembenahan administrasi dan tata kelola, tetapi harus menghadirkan pelayanan yang semakin mudah diakses, nyaman, cepat, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Sinergi antara pesantren, pemerintah daerah, DLH, dan Kementerian Agama menjadi bukti bahwa pelayanan publik dapat tumbuh secara holistik. Layanan keagamaan, pendidikan, kesehatan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Setelah rangkaian verifikasi lapangan selesai, kegiatan kembali dilanjutkan di Aula Meeting Room YBM. Immanuel Kharisma menyampaikan apresiasi atas komitmen nyata seluruh keluarga besar pesantren. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Kepala Divisi Pendidikan YBM, KH. M. Mujib, S.H., M.Pd.I.
Dari sudut Pondok Pesantren Al-Umm, pesan penting itu kembali ditegaskan: perubahan besar dapat dimulai dari kepedulian kecil yang dilakukan secara konsisten. Ketika pesantren merawat lingkungan, mereka sesungguhnya sedang merawat masa depan; ketika pelayanan keagamaan bersinergi dengan kepedulian terhadap kesehatan dan alam, manfaatnya akan menjangkau kehidupan yang lebih luas.
Semangat inilah yang menjadi wajah nyata Kementerian Agama Berdampak—hadir melalui kolaborasi, menguatkan kesadaran, memudahkan perubahan, dan memastikan nilai-nilai keagamaan benar-benar menjelma menjadi manfaat bagi manusia, masyarakat, dan lingkungan.(*)
